Laksamana Malayahati

Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar pahlawan kepada empat tokoh Indonesia. Upacara penganugerahan gelar pahlawan itu digelar di Istana Negara, Jakarta, Kamis (5/11/2015). Penganugerahan gelar pahlawan itu tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 115 TK Tahun 2017 tanggal 6 November 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Melansir Kompas.com, keempat tokoh yang mendapat gelar pahlawan berasal dari empat provinsi yang berbeda.

Mereka, yakni Almarhum TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dari Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Almarhumah Laksamana Malahayati dari Provinsi Aceh, Almarhum Sultan Mahmud Riayat Syah dari Provinsi Kepulauan Riau dan Almarhum Lafran Pane dari Provinsi DI Yogyakarta.

Semua plakat tanda jasa dan penghargaan gelar pahlawan nasional diberikan oleh Presiden Jokowi kepada para ahli waris.

Mensos Khofifah Indar Parawansa mengatakan gelar pahlawan nasional diberikan karena semasa hidupnya keempat tokoh tersebut telah melakukan tindak kepahlawanan dan berjasa luar biasa bagi kepentingan bangsa dan negara.

Melansir Kontan anugerah juga diberikan karena keempat tokoh tersebut dianggap punya kontribusi besar bagi Indonesia.

“Gelar diberikan setelah presiden atas usulan dewan gelar setelah nama diteliti dan dikaji oleh tim peneliti dan pengkajian gelar pahlawan,” katanya.

Hartono Laras, Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial mengatakan, kontribusi yang diberikan keempat tokoh tersebut beraneka ragam.

Untuk TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid yang lahir di Nusa Tenggara Barat 19 April 1908 dan wafat pada 21 Oktober 1997 diberikan karena dia seorang nasionalis pejuang kemerdekaan, da’i, ulama, dan tokoh pendidikan emansipatoris.

Ia merupakan pendiri organisasi Islam Nahdatul Wathan. Organisasi ini menjadi organisasi Islam terbesar di Lombok yang memberikan perhatian kepada pendidikan dan agama.

Untuk Laksamana Malahayati, laksamana perempuan pertama dari Aceh, gelar pahlawan diberikan atas jasanya dalam memperjuangkan Aceh dari invasi Belanda dan Portugis.

Untuk Lafran Pane pemberian gelar dilakukan atas kontribusinya dalam menggerakkan pemuda, memprakarsai pembentukan Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI).

Lafran Pane merupakan salah satu tokoh utama penentang pergantian ideologi negara dari Pancasila menjadi komunisme.

Sementara itu, Kepala Biro Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan Laksma TNI Imam Supriyatno mengatakan, penganugerahan gelar pahlawan nasional ini memperhatikan petunjuk Presiden.

Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan berpedoman pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan.

Pasal 26 tentang syarat khusus untuk gelar diberikan kepada seorang yang telah meninggal dunia dan semasa hidupnya melakukan sejumlah hal.

Pertama, pernah memimpin dan melaksanakan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Kedua, tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan.

Ketiga, melakukan pengabdian dan perjuangan yang berlangsung hampir sepanjang hidupnya dan melebih tugas yang diembannya.

Keempat, pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara.

Kelima, pernah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat martabat bangsa.

Keenam, memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan yang tinggi.,

Terakhir, melakukan perjuangan yang mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.

Sumber: serambinews.com

%d blogger menyukai ini: