Perjalanan kali ini “menemui rasa” yang tersembunyi di kaki Gunung Halimon, tepatnya di Gampong Blang Dhod Tangse. Sebagai penikmat kopi yang terbiasa dengan arabika Gayo dan robusta made in Ulee Kareng, kehadiran produk kemasan Kopi Liberika Tangse menggoda saya bersama Baktiar Ian Pumesta (Ketua Pemuda Tani HKTI Pidie) “menerobos” salahsatu desa terbaik Aceh 2017 ini.

Setiba dipintu toko kami disambut teman lama yang juga ketua Komisi D DPRK Pidie Samsul Bahri dan Faisal Skm (saat ini Kepala Puskesmas Tangse), keduanya teman sekelas kami di SMA Tangse (1992 s.d 1995).

Kamipun tidak sabaran “menyeruput” kopi yang diseduh langsung Samsul Bahri. Terasa aliran kopi rasa buah nangka yang wangi dan manis dengan manja menggoda kamar-kamar rasa. Inilah Kopi Panah Tangse atau Kopi Liberika, spesies langka yang masih tersisa di dataran tinggi Tangse.

Menariknya, kopi Liberika ini diproduksi oleh BUMG Gampong Blang Dhod. Ditangan-tangan anak-anak muda perangkat desa ini kopi yang dulunya hanya sekedar biji kopi diperjualbelikan, diracik sejak pemilahan kopi kering, roasting sampai dikemas dan disuguhi dalam secangkir kopi. Prosesnya masih sederhana dan manual, tapi untuk saat ini citarasa yang dihasilkan cukup menjadi alternatif baru rasa kopi Aceh.

Itulah Liberika, aroma kopi panah yang membius dari desa.

Oleh Hasnanda Putra

 

%d blogger menyukai ini: