Lanskap Tangse.

BLANGDHOD.DESA.ID – Indonesia memiliki banyak potensi alam yang unik dan berlimpah sebagai sumber potensi produk indikasi geografis yang berlimpah dan tersebar di seluruh Indonesia. Dari keunikan potensi alam tersebut, dilahirkanlah sertifikasi Indikasi Geografis (IG), yaitu sertifikasi yang digunakan pada produk tertentu yang sesuai asal atau lokasi geografis tertentu. Faktor lingkungan geografis memberikan ciri khas dan kualitas tertentu pada produk yang dihasilkan. Lingkungan geografis tadi bisa berupa faktor alam, manusia, atau kombinasi keduanya.

Kopi merupakan salah satu komoditas unggulan dalam sektor perkebunan yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Tanaman ini mampu meningkatkan devisa negara melalui sumbangannya terhadap nilai ekspor yang terus meningkat. Hingga saat ini, ada beberapa spesies kopi yang banyak dibudidayakan, beberapa diantaranya adalah kopi robusta, kopi arabika, dan kopi liberika. Kopi liberika merupakan jenis tanaman kopi yang sedang marak diperbincangkan akhir-akhir ini. Kemampuannya untuk dapat beradaptasi diberbagai jenis lahan termasuk lahan gambut merupakan salah satu kelebihan dari kopi liberika.

Seperti dikutip dari dongengkopi.id diketahui ada 4 jenis kopi yang beredar di dunia. Tentunya setiap spesies memiliki karakter dan sifat yang membedakan antar spesies.

Kopi Arabika dikenal sejak abad ke-14 saat budaya minum kopi sedang mewabah di berbagai penjuru dunia. Meski tidak ada yang dapat memastikan secara pasti kapan kopi arabika ditemukan, beberapa literatur menceritakan bahwa sebuah daerah di Afrika yang mencakup Ethiopia dan Eritrea percaya bahwa spesies kopi pertama kali dibudidayakan di Abyssinia. Abyssinia merupakan sebuah wilayah di daerah Benua Afrika yang mempunyai wilayah Ethiopia dan Eritrea. Beberapa varietas kopi yang terkenal dari jenis arabika di antaranya adalah Bourboun, Typica dan Geisha.

Kopi Robusta pertama kali ditemukan di Kongo, negara bagian tengah benua Afrika oleh seorang botani berkebangsaan Belgia pada tahun 1898. Nama robusta sendiri diambil dari kata ‘robust’ yang berarti kuat. Jenis biji kopi robusta memiliki kelebihan tersendiri di antaranya lebih tahan terhadap gangguan hama dan menghasilkan lebih banyak biji kopi dibandingkan dengan spesies kopi lainnya.

Kopi Liberika pertama kali ditemukan di negara Liberia dan banyak yang beranggapan bahwa kopi jenis ini berasal dari tanaman kopi liar yang berada pada daerah tersebut. Kopi liberika pertama kali dibawa oleh bangsa Belanda untuk dibudidayakan menggantikan jenis kopi arabika yang saat itu terkena serangan hama pada abad ke-19. Namun, kopi liberika juga mengalami nasib yang sama dan pada akhirnya bangsa Belanda membawa spesies lain yang lebih kuat terhadap serangan hama yaitu kopi robusta.

Kopi Excelsa ditemukan oleh August Chevelier, seorang botani dan ahli Taxonomi asal Perancis pada aliran sungai Chari di wilayah Afrika Barat di tahun 1905. Banyak perdebatan di antara para ilmuan mengenai salah satu spesies kopi ini dan membuat kopi ini memiliki banyak sebutan lain, salah satu di antaranya adalah Coffee Dewevrei. Jenis kopi Excelssa ini jarang dilirik oleh berbagai kalangan karena cita rasa yang dihasilkan tida dapat mengimbangi kopi arabika maupun robusta.

Tanaman Kopi jenis Liberika yang terdapat di kawasan Tangse

Kecamatan Tangse merupakan kecamatan yang menjadi sentra budidaya kopi Liberika di Provinsi Aceh. Memiliki ciri khas cita rasa, buah berukuran lebih besar dibanding Robusta, produktivitas lebih tinggi, serta mampu beradaptasi dilahan gambut dengan tanaman penaung pohon pinang menjadikan Liberika jenis kopi unggul dibanding Robusta dan Arabika. Kopi Liberika merupakan salah satu komoditas unggulan Kecamatan Tangse dan menjadi sumber mata pencaharian utama bagi penduduk di Tangse dan sekitarnya.

%d blogger menyukai ini: