Pemandangan Alam Tangse.

Dana pengembangan industri dan pengolahan serta promosi kopi Tangse sebesar Rp 750 juta gagal dicairkan Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Pidie. Gagalnya dana itu dicairkan, menyusul tidak adanya proposal kelompok sebagai calon penerima dana itu saat anggaran diplotkan. Padahal, dana tersebut telah disahkan dalam APBK Pidie tahun 2017 yang bersumber dari dana Otsus.

Kabid Perindustrian di Disperindagkop dan UKM Pidie, Mardaini, Minggu (29/10) mengatakan, dana tersebut seharusnya untuk pengadaan mesin roasting, dua mesin grinder penghancur, mesin sachet, espresso, dan sinder untuk produksi. “Rencana kami, dana Rp 750 juta yang gagal dicairkan tahun ini akan diusulkan kembali pada tahun 2018,” sebut Mardaini.

Ia mengatakan, sebenarnya pihak dinas telah melakukan studi perbandingan terhadap sistem pengolahan dan promosi kopi Gayo di Aceh Tengah. Hasil studi tersebut menjadi referensi pihaknya dalam pengembangan industri pengelolahan dan promosi kopi Tangse. “Ternyata pencairan dana tersebut tidak bisa dilakukan pencairan karena tidak adanya proposal,” tandasnya.

Anggota DPRK Pidie, Samsul Bahri, mengatakan, seharusnya Pemkab mencairkan dana yang telah dilakukan pengesahan antara eksekutif dengan legislatif pada tahun 2017. Khususnya anggaran untuk pengembangan dan promosi kopi Tangse.

Saat ini, promosikopi Tangse kurang dilakukan Pemkab Pidie. Sehingga kopi tersebut tidak diketahui masyarakat secara luas, khususnya pecinta kopi. Seharusnya, promosi kopi Tangse harus go Internasional dengan dilakukan origram pengembangan industri dan promosi kopi Tangse.

“Di Tangse, terdapat beberapa jenis kopi, antara lain, kopi liberika, robusta, dan arabika. Untuk itu, Pemkab harus memperhatikan nasib petani kopi Tangse,” kata Samsul Bahri.

Serambi Indonesia.

%d blogger menyukai ini: