BANDA ACEH – Pernah mendengar kopi yang rasa aslinya rasa boh panah (nangka)? Itulah kopi Liberika. Disebut Liberika karena ianya berasal dari Liberia, Afrika Barat. Batang kopi ini dapat tumbuh setinggi sekira 9 meter dari tanah, sebesar pohon melinjau.

Di Aceh, ternyata sudah lama ada kopi ini. Kopi liberika rasa boh panah, sekarang banyak terdapat di daratan tinggi Pidie, yang usahanya sudah terbentuk di Gampong Blang Dhod. Pemiliknya adalah BUMG Blang Dhod, Kecamatan Tangse, Pidie.

Seorang penduduk Bungkaih, Aceh Utara, Almuzalir, yang sering ke Tangse, mengatakan, seorang kawannya di Tangse, Eddy Azhari, adalah petani kopi, Sekretaris Gampong Blang Dhod.

“Petani di sana belum memiliki mesin roasting sendiri. Mesin itu sebenarnya ada dibuat oleh orang Aceh di Aceh dengan harga sekira 20-an juta. Kalau beli produk dari Turki seharga sekira 75 juta. Kopi ini punya pasar yang bagus,” kata Almuzalir, Minggu, 4 Juni 2017.

Selain Blang Dhod, kata Almuzalir, banyak tanah di sana memiliki potensi bagus untuk ditanami kopi. Di sekitaran daratan tinggi Pidie itu sampai Geumpang juga memiliki ketinggian yang sesuai untuk ditanami kopi Arabica. Di Blang Dhod sendiri, kata Almuzalir, ada kebun kosong sekira lima setengah hektar, yang pemiliknya ingin menanam kopi unggul Liberika. Selain itu masih banyak lagi tanah di sana.

“Sebuah kedai kopi di Tangse, tepatnya di Gampong Lhok Keutapang, bererapa kilometer sebelum Pasar Tangse, menjual kopi liberika termasuk kopi saringnya liberika. Kopi liberika sudah lama ada di Tangse, namun baru beberapa waktu lalu itu diketahui kopi liberika, setelah diteliti, ternyata itu kopi unggul. Awalnya masyarakat di sana menganggap itu kopi robusta. Tangse sudah lama terkenal dengan kopi, selain beras,” kata Almuzalir yang merupakan guru SMAN 5 Lhokseumawe, dan penyuka kopi ini.

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Sumber: portalsatu.com

%d blogger menyukai ini: