Edi Azhari, 38 tahun, pengusaha warung kopi khas Tangse sekaligus sekretaris Gampong Blang Dhod, memiliki sebuah “senjata rahasia” di warung kopinya, di Tangse, Pidie. Jika dulu hanya ada dua jenis kopi yang dikenal dan dipasarkan di warung itu, kini Edi menawarkan varian baru: liberika.

“Biji kopi ini dikenal sejak abad ke-17. Tapi memang, di Aceh, lebih menonjol kopi arabica di dataran tinggi Gayo yang didatangkan oleh pengusaha Belanda,” kata Edi kepada KBA, Sabtu, 7 Oktober 2017.

Saat Belanda mengembangkan kopi arabika di Gayo, tiba-tiba muncul hama yang menyerang pohon kopi yang ditanam di hampir 200 hektare lahan. Saat itu, kata Edi, belum ada teknologi penanganan hama kopi. Para pengusaha Belanda yang didukung militer mulai memutar otak.

Lalu mereka mendapatkan solusi dengan mendatangkan benih kopi dari Liberia, sebuah negara di pesisir barat Afrika, dan membudidayakannya di Gayo. Namun hanya sebentar. Setelah serangan hama tuntas, mereka kembali menanam kopi arabika.

Tapi masyarakat kadung mengenal kopi jenis ini. Mereka menyebutnya dengan kopi panah. Meski tergolong dalam keluarga robusta, bijinya sedikit kecil dari arabika. Liberika mampu bertahan hidup lebih lama ketimbag kopi robusta yang rata-rata berusia 30 tahun. Leberika juga memiliki batang lebih besar dari batang kopi umumnya dan dapat tumbuh hingga 7 meter.

Istimewanya Liberika, ujar Edi, selain daya tahan tumbuh batang lama, juga banyak dahan. Saat dipanen, jumlah yang dihasilkan dari satu pohon bisa mencapai dua kali lipat dibandingkan kopi robusta. Harganya pun lebih mahal. Edi menampung biji kopi liberika dengan harga Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram.

“Liberika juga memiliki keistimewaan lain. Kafein yang terkandung lebih besar di daun ketimbang di biji, berlawanan dengan arabika dan robusta,” kata Edi.

Karena itu, dia bersama dengan aparat Desa Blang Dhot, Tangse, Pidie, nekat mendirikan Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) Bukit Indah Blang Dhot yang mulai memproduksi bubuk kopi kemasan. Tidak tanggung-tanggung, mereka mengemas tiga jenis kopi varian berbeda: arabica, robusta dan liberika. Bahkan perusahaan plat merah milik gampong itu mendampingi sejumlah petani kopi di kawasan Blang Pandak, Tangse, untuk membudidayakan kopi arabika Tangse.

Menurut Edi, kawasan Blang Pandak berada di ketinggian sekitar 1.200 meter dari permukaan laut (mdpl). Ini adalah daerah yang ideal untuk menanam kopi arabika. Sedangkan robusta dan liberika cocok ditanam di ketinggian rata-rata 1.000 mdpl.

Edi memastikan tak banyak perbedaan rasa arabika Tangse dan arabika Gayo. Semua tergantung cara memanen biji kopi yang ranum. Karena teknik memilih biji kopi sangat menentukan cita rasa kopi. Faktor lain yang mempengaruhi rasa adalah proses menjemur dan teknik olahan. “Biji kopi pilihan yang telah dipanen jangan disimpan terlalu lama. Lebih baik langsung dijemur,” kata Edi.

Proses penjemuran juga sangat mempengaruhi cita rasa kopi. Karena itu Edi menyarankan agar kopi tidak dijemur di atas tanah. Sifat kopi, kata dia, menyerap bau. Agar cita rasa kopi lebih terjaga, sebaiknya kopi dijemur di atas lantai atau batu yang diberi alas.

Soal dukungan pemerintah, Edi dan rekan-rekannya pernah mengupayakan. Tapi hingga kini, dukungan keuangan yang mereka harapkan tak kunjung datang. Padahal, petani di desa itu membutuhkan biaya untuk pengembangan budidaya maupun pengolahan serta pemasaran.

Tahun ini, Pemerintah Kabupaten Pidie mengelontorkan dana bantuan budidaya kopi robusta di sembilan desa dengan jumlah benih sekitar 254.300 batang dan lahan sekitar 127,15 hektare. Para penerima bantuan adalah Desa Alu Calong 24.200 batang benih, Blang Bungong 26.400 batang benih, Sarah Panyang 22.100 benih, Ulee Gunong, 34.100 benih, Blang Malo 45. 200, Blang Dhot 23.100 benih, Layan 31.900 benih dan Blang Juerat 23.100.

Sedangkam Desa Blang Pandak, yang merupakan kawasan ideal pertumbuhan kopi arabika, sejauh ini tidak mendapat bantuan budidaya kopi. Petani Blang Pandak hanya mendapat dukungan dari warga sekitar, terutama di bidang pengolahan. “Setahu saya, selama ini petani kopi di Blang Pandak hanya dibina oleh BUMG Blang Dhot,” kata Agus Salim, petani kopi di daerah itu.

Sumber: KBA.ONE

%d blogger menyukai ini: