BLANGDHOD.DESA.ID | Blang Dhod – Pesatnya perkembangan zaman berimbas memudarnya tradisi tôt apam. Namun, tradisi ini masih tetap bertahan di sejumlah wilayah, terutama kawasan pedalaman di pesisir pantai utara dan timur Aceh. Setiap datangnya buleun apam (bulan ketujuh dalam hitungan tahun Aceh), kaum ibu beramai-ramai melaksanakan khanduri apam. Selasa (20/3/2018) lalu, khanduri apam juga dilaksanakan di pedalaman Pidie. Tepatnya di Halaman Meunasah Gampong Blang Dhod, Kecamatan Tangse, Pidie.

Apam (serabi) merupakan kue tradisional Aceh, yang dibuat dari campuran tepung beras, santan, air kelapa, air putih, garam dan gula pasir. Lalu adonan yang sudah diaduk, dimasak dalam sebuah caprok tanoh (periuk tanah) yang berukuran kecil.

Namun, saat dimasak biasanya tidak menggunakan kompor atau kayu bakar. Kaum ibu-ibu biasanya memasak dengan  ôn ‘ue thô (daun kelapa kering). “Masaknya lebih enak menggunakan daun kelapa kering dibandingkan kompor,” kata Nur (55), warga Gampong Blang Dhod, Kecamatan Tangse, Pidie.

Namun, sangat disayangkan ketika banyak generasi jaman sekarang mulai melupakan kuliner tradisional khas Aceh. Karena, di Aceh setidaknya memiliki sekitar 154 jenis makanan tradisional, selain apam, juga ada timphan, canggruek, leughok, bulukat kuah tuhe, serta masih banyak lagi.

“Tradisi tôt apam (bakar apam) sekarang ini banyak yang sudah hilang. Biasanya tiap tahun ada. cuma biasanya masyarakat hanya memasak di rumah lalu diantar ke tetangga,” kata Sekretaris Gampong Blang Dhod, Eddy Azhari. Namun pada tahun ini masyarakat berinisiatif untuk bersama-sama menggelar tradisi tôt apam di Meunasah Gampong Blang Dhod. Hal ini dilaksanakan untuk menjaga tradisi yang sudah turun temurun. “Supaya generasi muda sekarang tahu tradisi tôt apam itu, bukan hanya mendengarnya saja,” ujarnya.

Apam, siap disajikan

Pantauan tim blangdhod.desa.id acara ini berlangsung ramai dan khidmat. Terlihat masyarakat sangat kompak baik kaum laki-laki maupun perempuan bahu-membahu demi menyukseskan acara ini. Selain tôt apam, masyarakat juga memasak Kuah Pliëk

Sehingga, untuk membangkitkan tradisi tôt apam, serta memperkenalkan kuliner tradisional itu kepada generasi muda sekarang, maka digelarlah acara memasak tersebut yang diikuti oleh kaum perempuan.

Padahal, jika dikelola dengan baik, tradisi tôt apam ini diyakini dapat menjadi salah satu obyek untuk menarik wisatawan, terutama para pemburu kuliner.

%d blogger menyukai ini: