Kopi adalah tentang rasa dan aroma. Tapi di Tangse, kopi “diformat” ulang. Meski kopi dari dataran tinggi Pidie ini pernah dikenal luas pada abad ke-17.

KBA.ONE, Pidie – Geuchik T Hasan, Kepala Desa Layan, Kecamatan Tangse, Pidie, masih mengingat kisah kedatangan sejumlah orang dari Lamno, di barat Aceh. Mereka datang ke Tangse membawa kopi robusta yang perlahan digemari oleh penduduk lokal.

“Sejak itu, masyarakat mulai membudidayakan kopi dengan mengembangkan teknologi saat itu,” kata Hasan kepada Marzuki dari KBA.ONE, Sabtu, 7 Oktober 2017. Kisah ini diceritakan kepada Hasan oleh ayahnya, Teuku Ben yang lahir pada 1919. Teuku Ben adalah pejuang yang ikut mengusir penjajah Belanda yang saat itu mencoba menguasai rempah-rempah dari Aceh, termasuk kopi yang saat itu menjadi pendapatan utama masyarakat di Tangse.

Setelah Indonesia merdeka, komoditi kopi robusta semakin kuat daya tariknya. Di Tangse, hampir 70 persen masyarakat menggantungkan hidupnya dari “biji emas hitam” itu. Banyak pemuda Tangse yang bersekolah keluar daerah dibiayai dari hasil panen kopi. Bahkan orang setempat mengongkosi perjalanan haji mereka menggunakan uang dari hasil panen kopi.

Di era 90-an, gairah petani Tangse mempertahankan kopi sebagai pendapatan utama memudar. Gejolak politik di Aceh menjadi salah satu penyebabnya. Konflik antara Gerakan Aceh Merdeka dan Pemerintah Indonesia menyebabkan gelombang pengungsian ke Kecamatan Mutiara pada 2000.

Tak lama memang. Masyarakat pemilik kebun kopi itu hanya mengungsi selama tiga bulan. Tapi waktu yang singkat itu cukup untuk “membunuh” pohon kopi dan sejumlah komoditas lainnya. Sejak itu pula, perlahan-lahan, bertani kopi mulai ditinggalkan.

Setelah keadaan kembali kondusif, usai penandatanganan perjanjian damai antara GAM dan RI, para petani mulai kembali “angkat cangkul”. Mereka kembali naik ke gunung dan mulai menggarap kembali ladang “emas hitam” yang mereka tinggalkan hampir satu dasawarsa lebih.

Seiring perkembangan teknologi pengolahan kopi, dalam lima tahun terakhir, dan meningkatnya jumlah penikmat kopi di kalangan muda Aceh, tidak kecuali juga di Pidie, harga komoditi kopi Tangse berangsur naik. Dari awalnya hanya Rp 20 ribu per kilogram, kini menjadi Rp 30 ribu. Bahkan kopi robusta jenis premium dihargai Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram.

Meski harganya tak sebanding dengan harga kopi jenis arabika Gayo, tetapi gairah perkopian di Pidie ini memunculkan optimisme. Razali, bekas kombatan GAM, sejak 2013 tertarik mengembangkan benih kopi robusta asal Bandar Lampung dengan pola budidaya intensif. Dia menanamnya di lahan seluas tiga hektare. Dan kini, dia menjadi tempat para petani kopi membeli benih berusia delapan bulan dengan harga Rp 2.000 – Rp 3.000 per batang.

Razali mengaku tertarik mengembangkan budidaya bibit kopi robusta lampung setelah mendapatkan informasi dan pelajaran dari seorang rekannya di Takengon, Aceh Tengah, sekitar 2013. Jenis tanaman kopi robusta asal Lampung tersebut relatif lebih cepat berbuah ketimbang jenis kopi lain. Hanya perlu 18 bulan, biji kopi siap dipanen. Bahkan kini, Razali menjadi satu-satunya penyalur benih kopi robusta Lampung di Tangse.

Gayung bersambut. Dalam dua tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Pidie juga giat melakukan program budidaya kopi robusta. Namun bukan jenis robusta Lampung, melainkan kopi varitas lokal. Namun karena masa berbuah yang lebhih lama, banyak petani yang enggan menanami jenis kopi ini. Apalagi, harganya relatif lebih murah ketimbang robusta asal Lampung. “Ini fakta di lapangan,” kata Razali.

Sumber: KBA.ONE

%d blogger menyukai ini: